Kualitas, daya saing produk tanpa batas. Konsistensi menghasilkan kesetiaan tak bertepi

“Kualitas bukan turun dari langit ia tidak datang serta merta.

Diperlukan banyak pengorbanan, keseriusan kepada  pelanggan dibagian ujung pertaruhan. Kualitas adalah pengakuan atas  perjuangan dari rangkaian perjalanan menuju pencapaian.”.

Di awal kemunculan paham kualitas, banyak kalangan mengasumsikan kualitas hanyalah beban biaya. Hanya uang bisa bicara, bukan kinerja atau unjuk kerja. Sedikit yang  menyentuh pentingnya memenangkan persaingan dengan memberi layanan prima.

Kualitas diawali dengan komitment untuk memberikan yang terbaik  bagi pelanggan. Diperlukan kesepenuhatian memberikan semua keinginan pelanggan sesuai dengan harapan.

Hingga muncul W. Edward Deming ditengah kerumunan ketidak percayaan masyarakat USA. Zaman itu berkembang pemahaman membuat produk menekankan aspek kuantitas saja. Produksi yang murah dengan harga juga murah. Kualitas hanyalah pemborosan karena tidak ada nilai tambah yang akan berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan.

Justru di Jepanglah ide pemikiran Deming di dengarkan dan diindahkan.

Jepang mempelajari keunggulan Amerika. Pada tahun 1950, Jepang sedang membenahi diri setelah negaranya porak poranda akibat Perang Dunia II.

Industri tidak berjalan dan perekonomian dalam keadaan hancur. Jepang merima Deming dengan antusiasme yang tinggi, mereka mencari terobosan titik balik perubahan.

Sekitar 240 pimpinan perusahaan Jepang hadir , jumlah ini setara dengan 80% eksekutif tinggi di Negara itu. Mereka tekun  mengikuti seminar Deming selama 8 (delapan) hari. Pemahaman tradisional menyatakan bahwa kualitas yang tinggi itu mahal, dirubah bahwa kualitas tinggi secara signifikan dapat  menurunkan biaya dan ongkos.

Saat ini semangat improvement kualitas  telah menjadi sebuah keharusan produk Jepang.Salah satu contoh paling spektakuler diakoni Toyota Motor. Improvement yang dijalankan adalah perbaikan dengan semangat minim biaya. Jika diawal kemunculannya biaya tidak jadi pertimbangan, sekarang malah justru menjadi awal dasar praktek perbaikan.

Mencoba mencari sumber pemborosan/muda adalah fenomena bagaimana mereka bisa mendetailkan nilai kualitas. Jika masih banyak kebocoran yang tak perlu. Jika aktivitas dijalankan dan  tidak mendatangkan nilai tambah itulah kemubadziran bermula.

Waspadai 7 hal pemborosan, maka kualitas prima akan tumbuh tanpa harus mengeluarkan biaya. Sebaliknya jika mampu dihindari akan mendapatkan penghematan.

  1.  Produksi berlebih (Overproduksi) Membuat barang melebihi kebutuhan.
  2. Stock berlebih (Over stock) Menyimpan bahan baku melebihi kebutuhan.
  3. Transportasi, penyimpanan material di tempat tertentu sebelum di proses
  4. Memproduksi barang defect.Perbaikan kesalahan menimbulkan biaya ganda tak perlu
  5. Prosedur tidak efisien, Urutan proses kerja tak mengindahkan proses berikut.
  6. Pemborosan pergerakan tidak efiesien.Gerakan pekerja tak berhasil guna
  7. Pemborosan waktu menunggu.Operator berhenti bekerja karena proses sebelumnya  blm  usai.

Hasil pengembangan kualitas adalah meletakan konsep Quality Control sebagai guidance pemastian. Kecenderungannya Penanggung jawab proses mengabaikan fungsi control. Mereka akan melepaskan tanggung jawab pemastian karena berharap proses berikut yang akan melakukan.

Toyota menginisiasi Konsep My Quality Assurance, Pemastian kualitas adalah tanggung jawab saya. Kualitas dapat juga dikendalikan dari keinginan tidak menerima barang defect-menghasilkan barang defect hingga menyalurkan barang defect.

Quality control bukan lagi kepunyaan Sebuah department tersendiri.

Melainkan built in ditanamkan kepada masing-masing penanggung jawab proses.

Kalau sebelumnya produk buatan Jepang dianggap produk kedua tak memiliki daya saing. Semenjak mereka concern terhadap baku mutu produk, prestasi Jepang mucul kepermukaan dengan segala kelebihan.

Kualitas menjadi salah satu prioritas yang tidak boleh diabaikan untuk menciptakan trust  dan hubungan yang berkelanjutan. Kualitas prima akan menghantarkannya kepada sebuah level terbaik disisi pemasaran.

Deming juga menegaskan bahwa keuntungan sesungguhnya didapat dari kesetiaan konsumen. Dengan kualitas yang tinggi, akan menciptakan kepuasan dan kepercayaan konsumen, sehingga konsumen akan selalu mencari produk yang sama

Dalam era persaingan industri yang semakin kompetitif saat ini, kualitas produksi menjadi hal yang sangat diperlukan dalam memenangkan persaingan.  Keunggulan suatu produk dapat diukur dari tingkat kepuasan pelanggan. Konsistensi menghasilkan kesetiaan tak bertepi (lse).

 

Leave a Reply

Rahasia Membangun SOP
I’m Proud a member

Testimonials
Konsultasi dari Pak Lukman mampu merubah Sistem Kerja Kami.

Muhammad AzwarAnnas- Kepala Bidang Pendayagunaan PKPU Surabaya-Lembaga Kemanusiaan Nasional
Sangat menarik materi entrepreneurship yang disajikan Bpk Lukman pada acara MOS Siswa Baru SMA Al-Islam Krian, terbukti dari antusiasme pertanyaan dan diskusi-diskusi kecil. Semoga sukses selalu kita raih bersama

Suharyono Az - Wakil Kepala Sekolah SMA AL ISlam Krian - Sidoarjo
avatarSejak ikutan pelatihan pembuatan SOP di Virto dan mempraktekkannya, saya bisa melihat jelas kurangnya penataan dalam manajemen perusahaan sehingga ada data dasar untuk membenahi bahkan membuatnya lebih efektif. terima kasih pak Lukman dan teman-teman pelatih

Dian Purwaningtyas
www.mrtacoz.co.id
Lukman Setiawan
viagra